“Dunia penelitian adalah sebuah never ending learning. Selalu ada hal baru yang dapat kita teliti”

Kalimat tersebut diucapkan oleh Riksfardini Annisa Ermawar (37), peneliti muda Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial LIPI, ketika ditanya tentang kepuasan yang ia peroleh sebagai seorang peneliti.

Lulus dengan gelar doktor dari The University of Adelaide, Australia, Dini, panggilan akrabnya, kembali ke Puslit Biomaterial di tahun 2016 dan fokus bekerja di Kelompok Penelitian Teknologi Proses Biomassa dan Bioremediasi (TPBB).

Proses belajar sebagai seorang peneliti juga ia lakukan dengan mengikuti Diklat Jabatan Fungsional Peneliti Tingkat Lanjut di Pusbindiklat Peneliti LIPI pada tanggal 1-10 Mei 2017. Selain sebagai syarat kenaikan jenjang fungsional, menurut Dini, diklat ini memberi banyak manfaat diantaranya peserta dituntut membuat proyek penelitian yang melibatkan banyak disiplin ilmu. “Kami membuat draft/konsep action plan kerjasama penelitian, mengambil tema Bogor Botanical Garden as A Model for Zero Waste Techno-Park. Proyek ini bersifat multidisiplin karena peneliti dari berbagai bidang keilmuan, dan dari berbagai satuan kerja di LIPI, berkontribusi di dalamnya,” ujar Dini.

Ia menjelaskan bahwa proyek penelitian tersebut menjadi kolaborasi para peneliti. Peneliti dari PKT Kebun Raya Bogor menyumbangkan gagasan tentang pemanfaatan sampah daun yang dapat digunakan sebagai sumber daya utama pembuatan kompos. Kemudian oleh peneliti dari Puslit Biomaterial dan Puslit Biologi kompos tersebut dibuat dalam bentuk granula dengan formulasi dan kualitas yang lebih baik. Model kompos dalam bentuk granula tersebut tentu saja memerlukan alat/mesin untuk pembuatannya, disini peneliti dari Puslit Metalurgi mengambil peran dengan merancang desain alat tersebut. Jika kompos sudah diproduksi dalam skala besar, peneliti dari Puslit Fisika dapat melakukan monitoring terhadap kontaminasi yang mungkin ditimbulkan dari limbah cair kompos terhadap air tanah. Sementara peneliti dari Puslit Informatika menyumbangkan keahliannya dengan cara membuat multimedia learning berbasis web dan mobile apps. Sehingga pelanggan/stakeholder dapat mempelajari proses pembuatan kompos melalui multimedia. Lalu peneliti dari Pusat Sumber Daya Regional akan melihat kepuasan pelanggan dan faktor socio-economic benefits terhadap masyarakat dengan cara melakukan uji/survey yang mana jika hasilnya baik dapat dijadikan rekomendasi dalam bentuk policy paper kepada pemerintah.

Proyek multidisiplin ilmu dan juga tugas-tugas portofolio lain, self-assesment, kedisiplinan, serta keaktifan di kelas, akhirnya mengantarkan Dini mendapatkan prestasi sebagai peserta diklat terbaik. Meski begitu, ia merasa keberhasilannya bukan miliknya seorang. “Saya merasa beruntung berada dalam kelompok yang berisi para peneliti hebat. Sehingga alangkah baiknya jika apresiasi seharusnya diberikan tidak hanya kepada saya tetapi kepada semua yang terlibat. Karena disini justru saya yang merasa banyak belajar. Keberhasilan saya adalah keberhasilan mereka semua,” ujarnya.

 

 

Dini mengatakan bahwa hidup harus bermanfaat untuk orang lain. Ia mengutarakan impiannya suatu saat ingin membangun sebuah Plant Genomic Center. Yang tidak hanya sebagai pusat database informasi genetic semua tanaman, tapi juga sebagai pusat pelayanan publik bagi masyarakat. Seperti membantu petani lokal dalam melakukan analisis genetik terhadap bibit tanaman, sehingga bibit tanaman lokal mampu bersaing dengan bibit tanaman impor yang saat ini banyak digunakan di Indonesia.

 

Menurut Dini, peneliti seharusnya lebih banyak melakukan penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat. Tidak hanya fokus meneliti sesuatu yang disenangi saja. Peneliti pun harus independen, agar tujuan penelitian tidak memihak dan hasil penelitian yang diperoleh lebih baik. “Secara global saya berharap dapat melakukan penelitian yang memiliki dampak luas, tidak hanya untuk masyarakat Indonesia tapi juga dunia,” pungkasnya.