Menatap dari ketinggian sebagian besar kota-kota besar metropolitan di Indonesia lainnya yang tampak adalah banyaknya bangunan beton bak hutan belantara. Pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan laju pembangunan di daerah perkotaan memunculkan banyak area urban dan semakin menjamurnya bangunan tinggi pencakar langit serta pusat-pusat perbelanjaan yang saling berdekatan jaraknya. Seiring dengan tumbuhnya area urban dan pembangunan fisik berupa gedung-gedung megah di perkotaan memang membanggakan dan kadang menjadi ikon atau landmark suatu kota, namun disisi lain, pembangunan tersebut justru kerap menggeser atau bahkan mencaplok Ruang Terbuka Hijau (RTH). Padahal RTH yang merupakan bagian dari ruang terbuka suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tanaman, tumbuhan dan vegetasi mampu memberikan manfaat langsung atau tidak langsung seperti dalam hal kenyamanan, keamanan, kesejahteraan dan keindahan wilayah perkotaan.

Potret Ruang Terbuka Hijau Perkotaan

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 mendefinisikan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) sebagai bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan estetika. Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dibagi menjadi bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung) dan bentuk RTH non alami atau binaan (pertamanan kota, pertanian kota, lapangan olah raga dan pemakaman). Sering kali dijumpai taman-taman kota yang disulap menjadi gedung perkantoran, pusat perbelanjaan mewah atau apartemen. Hal ini menimbulkan dampak yang negatif bagi lingkungan yaitu ketidakseimbangan ekologi dan mempercepat proses pemanasan global yang tentunya berdampak pada kesehatan manusia cepat atau lambat.

Penyusutan RTH di daerah perkotaan metropolitan ini tentu membuat daya dukung lingkungan dan kemampuan menyediakan infrastruktur menjadi menurun. Sering terdengar keluhan masyarakat baik langsung maupun cuitan lewat media sosial terkait udara perkotaan yang semakin panas dan kualitas udara yang semakin tidak sehat. Gambaran lainnya adalah seperti kondisi pemukiman di area urban perkotaan yang identik dengan lahan sempit, sesak, padat penduduk dan semrawut. Kondisi tersebut memiliki andil negatif dalam penurunan daya dukung kehidupan perkotaan seperti berkurangnya sumber air tanah yang layak konsumsi, terbatasnya persediaan udara bersih, lingkungan yang semakin panas hingga percepatan tingkat stress masyarakat. Idealnya dengan meningkatnya pembangunan di perkotaan tidak mengurangi daya dukung lingkungan dengan menyempitnya RTH. Berdasarkan fungsi utama maka RTH terbagi untuk pertanian perkotaan, taman kota dan hutan kota. Undang Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang mensyaratkan luasan RTH pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota yang terdiri dari 20 persen RTH publik dan 10 persen RTH privat. Ini membawa konsekuensi setiap lahan yang ditempati, idealnya minimal 70 persen digunakan untuk bangunan dan 30 persen untuk lahan hijau.

Berbenah Untuk Ruang Terbuka Hijau Perkotaan

Banyak area tanah terbuka di perkotaan semakin sempit karena adanya okupasi maupun konversi lahan di perkotaan menjadi bangunan yang didominasi oleh semen dan beton. Padahal lahan dengan tanah terbuka tidak tertutup oleh semen maupun beton sangat diperlukan sebagai media tanam. Fenomena ini kerap terjadi atas RTH di daerah perkotaan yang pada dasarnya juga disediakan untuk lahan pertanian. Hal tersebut jamak terjadi merata di seluruh kota-kota besar dunia. Untuk itu diperlukan konsep tata ruang perkotaan yang mampu mengoptimalkan RTH di daerah perkotaan. Salah satu konsep yang dicoba untuk diterapkan adalah dengan konsep taman vertikal modern yaitu  membuat sebuah taman dengan memanfaatkan lahan kosong perkotaan yang tidak mungkin ditanami oleh tanaman atau pohon pada mulanya. Konsep taman vertikal modern ini diperkenalkan oleh seorang ahli botani bernama Patric Blanc yang pada awalnya diterapkan untuk dekorasi pertamanan. Melihat semakin berkurangnya lahan pertanian di perkotaan maka konsep taman vertikal ini ditawarkan juga sebagai konsep pertanian modern. Konsep taman vertikal untuk pertanian di perkotaan sudah banyak dikembangkan di negara-negara maju. Konsep taman vertikal mampu menjadi sebuah tren baru dewasa ini melihat semakin menyempitnya RTH di perkotaan. Sebagai gambaran di beberapa kota besar metropolitan di Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (JABODETABEK) laju konversi lahan sudah mencapai 60 ribu hektar per tahun. James Siahaan (2010) menyatakan bahwa kecenderungan terjadinya penurunan kuantitas ruang publik, terutama RTH pada 30 tahun terakhir sangat signifikan. Di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Padang, Medan dan Bandung, luasan RTH telah berkurang dari 35 persen pada awal tahun 1970-an menjadi 10 persen pada saat ini. Kebutuhan terhadap RTH didasarkan dan dibandingkan atas 3 model perhitungan, yaitu perhitungan terhadap kepekaan alami kota, berdasarkan oksigen kota dan berdasarkan Inmendagri Bo. 14/1998. Berdasarkan kepekaan tapak, suplai oksigen dari tanaman, serta Inmendagri, dibutuhkan RTH masing-masing seluas 86-97.2 persen, 0.8-1.6 persen ha dan 40-60 persen dari luas kota. Kepekaan tapak merupakan penentu utama dari besaran RTH kota berdasarkan pertimbangan kerawanan dari perbukitan dan pesisir.

Melihat semakin cepatnya laju konversi lahan di perkotaan, konsep taman vertikal dirasa tepat diaplikasikan yang dipadukan dengan arsitektur tata ruang perkotaan. Namun ada kendala dalam pengembangan konsep media tanam vertikal ini yaitu material yang dipakai sebagai media tanam. Pada umumnya modul atau media tanam dalam konsep taman vertikal ini dibuat dari bahan polimer sintetis berbasis minyak bumi seperti polipropilena atau bahan sintetis geotekstil. Penggunaan bahan-bahan tersebut cenderung tidak ramah lingkungan dan cukup mahal harganya. Sebagai informasi untuk investasi per-m2 satu sistem taman vertikal pada tahun 2007 saja sudah mencapai US$ 2,500 – 10,000. Adapun untuk saat ini diperkirakan biaya per- m2 sekitar 1 juta sampai 4 juta rupiah. Biaya yang relatif masih mahal. Hal ini memacu berkembangnya inovasi-inovasi teknologi dalam konsep taman vertikal baik untuk menekan biaya produksi, investasi maupun menjadikan media/modul tanam vertikal menjadi lebih bersahabat terhadap lingkungan. Inovasi tersebut antara lain dengan penggantian material untuk media tanam vertikal yang umumnya berbahan sintetis menjadi berbahan dasar alam yaitu dengan batang pohon Pakis tiang/paku tiang (Cyanthea contaminans). Namun dijumpai kendala dalam pemakaian batang Pakis dimana tanaman Pakis merupakan jenis tanaman konservasi yang dilindungi oleh pemerintah dalam hal batasan eksploitasinya. Inovasi lainnya adalah dengan konsep hidroponik yang menggunakan serbuk kayu, pecahan bata, sabut kelapa, pasir dan lain-lain sebagai pengganti media tanah. Terlepas dari teknik yang diterapkan, kebanyakan tempat talangan hidroponik terbuat dari plastik, tapi bahan lain juga bisa dipakai termasuk bak beton, kaca, baja dan bahan solid lainnya. Bahan-bahan sebagai tempat talangan tersebut masih dikategorikan tidak ramah lingkungan. Ada juga konsep vertiminaponik yang merupakan kombinasi antara sistem bercocok tanam di lahan terbatas untuk budidaya sayuran secara vertikal berbasis pot talang plastik dengan sistem akuaponik.

Inovasi Teknologi Untuk Ruang Terbuka Hijau Perkotaan

Melihat hal di atas dilakukan terobosan inovasi baru lainnya dengan mencari bahan alam alternatif sebagai material media tanam sekaligus tempat talangan sehingga menjawab kendala-kendala tersebut. Tak ada rotan akarpun jadi. Ditemukanlah alternatif bahan alam untuk media tanam vertikal serta tempat talangan tersebut yaitu serat dari tandan kosong kelapa sawit, bambu dan sabut kelapa. Sebagai contoh untuk serat tandan kosong kelapa sawit merupakan produk samping dari industri Crude Palm Oil (CPO) sedangkan sabut kelapa merupakan hasil ikutan dari industri kopra. Sampai saat ini pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit dan sabut kelapa masih belum banyak menghasilkan produk dengan nilai ekonomi tinggi yang lebih tinggi. Padahal tandan kosong kelapa sawit di Indonesia memiliki potensi sebesar 13,6 juta ton (asumsi 17% dari 80 juta ton tandan buah segar) yang bisa digunakan untuk pulp dan kertas sedangkan produksi buah kelapa Indonesia rata-rata15,5 milyar butir/tahun atau setara 3,02 juta ton kopra; 3,75 juta ton air; 0,75 juta ton arang tempurung; 1,8 juta serat sabut dan 3,3 juta ton debu serat. Tanaman bambu merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan termasuk yang cepat tumbuh secara alami. Ada 60 jenis bambu di Indonesia dari sekitar 200 jenis bambu di Asia Tenggara. Ini adalah peluang besar dalam inovasi pemanfaatan serat alam yang berbasis industri sebagai material media tanam vertikal yang ramah lingkungan dan murah. Sebab, serat alam merupakan sumber potensial sebagai bahan utama produk komposit baik yang berkelas makro seperti untuk media tanam, mikro-material maupun nano-material seperti komposit termoplastik untuk otomotif. Semakin kecil ukuran komponen penyusun serat alam, semakin tinggi kekuatannya. Sifat mekanik ini menyamai serat aramid yang dikenal sebagai serat sintetis yang sangat kuat. Mohamad Gopar, seorang pakar media tanam vertikal dari serat alam di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI mengatakan bahwa proses teknologi pembuatan media tanam vertikal berbasis serat alam ini cukup sederhana dan mudah dilakukan. Hasil uji fisik dan mekanik serta uji layak tanam atas produk media tanam vertikal berbasis serat alam dari tandan kosong kelapa sawit, bambu dan sabut kelapa ternyata memenuhi standar yang ada. Apresiasi datang dari berbagai pihak baik dalam negeri maupun luar negeri terhadap produk media tanam vertikal berbasis serat alam dari serat bambu, tandan kosong kelapa sawit dan sabut kelapa tersebut.

Gambar 1. Contoh aplikasi media tanam vertikal dari serat alam pada beberapa infrastruktur (Dokumen dari Mohamad Gopar, 2012)

Ke depannya, serat alam yang diproses secara apik akan bisa menjadi material komposit (green composites) untuk komponen media tanam vertikal sehingga tak salah apabila nanti disebut sebagai media tanam vertikal yang murah dan ramah lingkungan. Media tanam vertikal berbasis serat alam tersebut cocok sebagai solusi dalam menyiasati semakin sempitnya RTH dan lahan tanah yang terbuka di perkotaan. Sisi-sisi kosong di beberapa sudut kota seperti dinding bangunan, lahan sempit, jalur pedestrian, interior mall/perkantoran, atap gedung-gedung bertingkat, kawasan pemukiman/perumahan bahkan baliho iklan dapat diisi dengan media tanam vertikal baik yang ditanami hias maupun tanaman holtikultura/sayuran. Keindahan, kenyamanan dan keuntungan secara finansial didapat dari penggunaan media tanam vertikal di perkotaan tersebut. Sehingga muncul istilah kota taman vertikal (vertical garden city) sekaligus pertanian perkotaan (urban agriculture). Perpaduan konsep yang sangat tepat dalam menjawab semakin sempitnya RTH dan lahan tanah terbuka di perkotaan. Apalagi di era yang sarat dengan pemanasan global dan perubahan iklim sekarang ini semakin digalakkan infrastruktur hijau kota (urban green infrastructure) yang berkembang dalam suatu konsep kota hijau (green city). Tidak ada alasan lagi membiarkan sejengkal sudut kosong di perkotaan tanpa ada tanaman yang mengisi dan tumbuh di atasnya.

Nilai lain yang didapat adalah harga jual dari media tanam vertikal tersebut relatif lebih murah dibanding produk media tanam vertikal lainnya. Pemakaian serat bambu, tandan kosong kelapa sawit dan sabut kelapa sebagai material untuk media tanam vertikal ternyata mampu menekan biaya investasi per-m2 menjadi sekitar 500 ribu rupiah. Nilai biaya yang masih sangat terjangkau. Bahkan diharapkan kedepannya bisa menjadi lebih kecil lagi ketika proses produksinya menjadi masif dalam skala industri yang besar. Ekonomi masyarakat akan turut bergerak seiring tumbuhnya industri perkebunan serat alam. Banyak pekerja yang dibutuhkan dalam sektor tersebut. Otomatis sektor riil akan tumbuh dengan pesat. Loncatan teknologi yang sangat spektakuler untuk menjawab tantangan teknologi dewasa ini dalam mensinergikan pembangunan dengan lingkungan sehingga tercapailah pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Selamatkan ruang terbuka hijau kota untuk anak cucu negeri ini.

Kurnia Wiji Prasetiyo, M.Si

Peneliti di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI (HP:081310167673)