Rehabilitasi Hutan Lindung Bukit Kucing

Hutan lindung semestinya memiliki fungsi sebagai pengatur tata air, pencegah banjir, pengendali erosi, pencegah intrusi air laut, dan penjaga kesuburan tanah. Namun karena faktor alam dan kelalaian manusia, seringkali hutan lindung kehilangan fungsi dan mengalami kerusakan. Demikian halnya yang terjadi dengan Hutan Lindung Bukit Kucing di Kota Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau.

Picture3

Hutan Lindung yang dibangun pada masa penjajahan bangsa Jepang tersebut mulai mengalami kerusakan karena kerap mengalami kebakaran, polusi, dan sering digunakan oleh masyarakat sebagai sarana rekreasi dan perkemahan tanpa memperhatikan kebersihan dan kelestarian hutan. Dampaknya adalah keanekaragaman vegetasi pohon yang menurun, dimana jenis pohon yang mendominasi saat ini hanya Akasia dan Kayu Putih.

Berangkat dari hal di atas, Pemerintah Kota Tanjung Pinang dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melaksanakan kerjasama untuk melakukan rehabilitasi hutan. Sebagai pelaksana kegiatan tersebut adalah Dinas Kelautan Perikanan Pertanian Kehutanan dan Energi Kota Tanjungpinang beserta UPT Balai Litbang Biomaterial LIPI. Kerjasama difokuskan pada penanaman jenis-jenis pohon untuk meningkatkan fungsi Hutan Lindung Bukit Kucing sebagai hutan lindung dalam kota.

Diperlukan perhatian serius dalam memilih jenis-jenis pohon yang akan ditanam. Banyaknya jenis pohon yang ditanam akan mendukung konservasi lahan hutan dan menjaga ekosistemnya. Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan pada tanggal 23-24 Mei 2012 oleh tim peneliti dari UPT Balai Litbang Biomaterial LIPI, terdapat 88 jenis tumbuhan yang sesuai dengan tofografi dan dapat ditanam Hutan Lindung Bukit Kucing. Dengan jumlah total sebanyak 12 ribu bibit ditanam pada lahan seluas 30 hektar.

Picture1 Picture2

 

 

 

 

 

Disamping masalah keanekaragaman vegetasi pohon, diidentifikasi pula bahwa jenis tanah dalam hutan lindung sangat beragam dari yang gembur sampai berbatu. Selain itu, Hutan Lindung Bukit Kucing memiliki tanah yang mengandung bauksit dan miskin unsur hara. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pemupukan pada bibit tanaman menggunakan Pupuk Organik Biomat (padat dan cair) untuk tanaman keras. Aplikasi pupuk organik tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pertumbuhan pohon dan meningkatkan kualitas tanahnya.

Rehabilitasi hutan lindung seperti pada Hutan Lindung Bukit Kucing adalah salah satu langkah peremajaan hutan yang sudah harus menjadi perhatian bersama. Sehingga hutan mendapatkan kembali fungsinya untuk meningkatkan kualitas lingkungan kota, rekreasi pendidikan, daerah resapan air yang dapat mengurangi aliran air, dan juga sebagai sebagai paru-paru kota.
(Cibinong, 1 Maret 2013 – Febrina/Humas Biomaterial LIPI)

Picture1