Oleh: Kurnia Wiji Prasetyo

Secara alami wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) didominasi oleh daerah kering yang identik dengan gersang dan curah hujan yang rendah sehingga mempengaruhi produksi pertaniannya. Luas lahan yang memungkinkan ditanami jagung, umbi-umbian maupun padi yang menjadi makanan pokok penduduk NTT amat terbatas dan rendah produktivitasnya. Apalagi lahan yang bisa ditanami padi pastilah lebih kecil luasannya. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan pokok akan pangan untuk seluruh warga di NTT menjadi tidak bisa terpenuhi secara optimal. Kekeringan akibat langkanya hujan sering membuat gagal panen di NTT yang berimbas pada kerawanan pangan dan bencana kelaparan. Gagal panen akibat kemarau panjang di sejumlah daerah di NTT juga memperparah asupan gizi di kalangan anak-anak.

Potret Alam Wilayah NTT

Secara administrasi Provinsi NTT terdiri dari 14 kabupaten dengan penduduk sekitar 5 juta jiwa. Lebih dari 80% masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian khususnya lahan yang tersebar di pulau-pulau besar seperti Flores, Sumba dan Timor serta beberapa pulau berukuran sedang seperti Alor, Solor, Adonara dan Sawu. Setiap tahun daerah yang terkenal akan kayu Cendana (Santalum album) itu tidak bisa lepas dari kekeringan yang berakibat pada krisis air, rawan pangan dan kelaparan. Sebagai informasi, di lima bulan pertama tahun 2015 tercatat 1.918 anak mengalami gizi buruk, 11 di antaranya meninggal dunia, seperti terungkap dalam data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kasus kekeringan sebetulnya selalu terjadi setiap tahun di NTT, namun bencana tahun 2015 dirasakan lebih parah, seperti yang terjadi di enam desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang berdampak pada rawan pangan pada sekitar 1000 jiwa. Dan di awal tahun 2016 juga di wilayah Kabupaten Belu NTT sudah mengalami kekeringan dan gagal panen akibat minimnya curah hujan. Para petani sampai tiga kali melakukan penanaman. Namun bulir jagung dan padi tidak normal karena lebih kecil dari biasanya. Batang jagung dan padi menguning karena kering disengat matahari. Pada tahun 2017 ini juga terjadi kekeringan dan gagal panen di beberapa wilayah NTT. Kejadian tersebut di atas seolah-olah membuka mata masyarakat akan kurang rapinya kinerja pemerintah daerah maupun pusat dalam perencanaan dan antisipasi penanganan kekeringan yang berimbas pada gagal panen dan rawan pangan di NTT. Bantuan dan solusi yang diberikan kadang hanya bersifat insindental tanpa menyentuh akar permasalahan sehingga cenderung terulang lagi kejadian tersebut.

Pemberdayaan Sumberdaya Lokal

Pola pertanian penduduk NTT sangat bergantung pada hujan mengingat kondisi alamnya yang memang kering dan kecil curah hujannya. Mengingat kondisi tersebut di atas yang potensial menimbulkan kerawanan pangan maka perlu adanya usaha pemberdayaan sumber daya lokal. Meskipun sebagai daerah dengan latar belakang iklim dan lahan kering dimana sedikit keragaman jenis tumbuhan yang digunakan sebagai penyuplai kebutuhan hidup masyarakat, bumi kering yang terkenal akan hewan komodonya yang oleh penduduk lokal disebut Ora ternyata masih memiliki beberapa jenis tumbuhan yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan komoditi bernilai ekonomi tinggi yang mampu mendukung kehidupan masyarakat lokal.

Gewang atau tune (Corypha utan Lamk.), sejenis tanaman palem yang banyak tumbuh di savanna NTT adalah salah satu contohnya. Kedudukan jenis tumbuhan ini begitu penting bagi masyarakat lokal di NTT. Meskipun tumbuh liar di kawasan savanna namun potensinya yang cukup besar telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Tak salah apabila sebutan emas hijau untuk gewang yang punya banyak kegunaan ini menarik minat beberapa peneliti untuk mengembangkannya. Di NTT cukup mudah dijumpai produk-produk dari gewang seperti rumah gewang yang artinya hampir semua bagian rumah yaitu atap, dinding dan tiang/balok berasal dari gewang. Daun dari tegakan muda dipakai sebagai atap rumah yang mampu memberikan suasana sejuk dibanding atap dari bahan seng. Bahkan daun gewang bisa dibuat tali serat yang kuat. Sejenis payung tradisional yang disebut seuk dibuat dari pucuk daun yang masih muda. Berbagai jenis anyaman seperti tikar, bakul dan lumbung padi juga dibuat dari daun gewang yang sudah dikeringkan. Pelepah tegakan muda juga dipakai sebagai dinding rumah yang disebut bebak; setelah dikeringkan disusun dengan cara ditancapkan pada 2 buah rusuk bambu sehingga membentuk lempengan-lempengan yang siap pakai. Batang dipakai sebagai balok atau tiang rumah. Adapun untuk tegakan berusia menengah ditebang untuk diambil patinya untuk diolah menjadi tepung yang disebut akarbilan dan dijadikan bahan makanan utama selama musim paceklik. Sementara itu, batang juga dibelah, dipotong kecil-kecil untuk dijadikan makanan ternak babi yang bermutu tinggi.

Melihat besarnya potensi gewang yang ada tersebut dan didukung oleh belum optimalnya pemanfaatannya maka tak salah apabila gewang dijadikan sebagai bahan pemberdayaan sumberdaya lokal. Beberapa daerah di NTT seperti Desa Manlea Kecamatan Sasitamean dan Desa Besikama Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu masih menggunakan produk gewang untuk kebutuhan pangan dan minuman. Beberapa produk gewang yang dijumpai seperti tepung akarbilan, nira, laru, sopi kepala dan kepala aer. Ini adalah bentuk dari kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa bergantung pada sumberdaya di luar daerah.

Salah satu produk gewang yang cukup potensial sebagai sumber karbohidrat sekunder disamping jagung dan beras adalah akarbilan yaitu suatu massa berupa tepung berwarna putih kekuningan yang diekstrak secara tradisional dari batang gewang berusia menengah sekitar 8-12 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan karbohidrat akarbilan cukup tinggi sekitar 65% sehingga berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan pangan baru seperti untuk bahan roti dan kue pengganti beras, tepung terigu maupun gandum. Akarbilan juga mengandung tanin yang cukup tinggi sekitar 6,4% sehingga potensial digunakan sebagai bahan campuran dalam industri perekat kayu menggantikan perekat sintetis. Kandungan gula pada nira dan gula aer berpotensi sebagai bahan dasar industri minuman kemasan baru sedangkan industri anggur dan alkohol medis dapat dikembangkan dengan berbasiskan laru dan sopi sebagaimana telah diupayakan pembuatan alkohol medis berbasis lontar (Borassus sundaicus) di NTT.

Tanaman gewang sendiri tergolong jenis monokarpik yaitu setelah berbunga dan berbuah tanaman ini mati pada umur sekitar 30-40 tahun. Selain itu banyak tanaman gewang yang telah disadap dibiarkan berdiri tegak sampai mati sendiri padahal masih ada potensinya. Menurut penelitian, satu batang gewang mempunyai potensi biomasa rata-rata 2,8 ton (dengan asumsi diameter rata-rata 60 cm, tinggi batang 20 m dan kerapatan kayu 0,5 g/cm3) yang bisa dimanfaatkan. Pada batang gewang ada beberapa bagian yang potensial untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi sekaligus artistik. Batang gewang bagian pinggir yang lebih keras dibanding bagian tengah dengan ketebalan sekitar 2-5 cm dicoba untuk dikembangkan menjadi parket untuk lantai yang bisa menggantikan parket dari kayu. Sedangkan bagian tengah batang dan pelepah juga dicoba sebagai bahan papan partikel yang banyak dibutuhkan dalam industri furnitur. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bagian keras dari batang gewang memiliki kekerasan dan kekuatan yang setara dengan kayu kelapa maupun kayu dengan densitas yang sama. Kajian pemanfaatan biomaterial gewang ini sudah dilakukan di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI sejak tahun 2008 dengan beragam produk yang bisa dihasilkan terutama untuk material bangunan dan furnitur.

Sentuhan Teknologi Dalam Pengembangan Sumberdaya Lokal

Meskipun gewang merupakan tanaman liar di savanna NTT namun telah dimanfaatkan dengan cukup efisien oleh masyarakat lokal. Adapun penyebaran dari gewang sendiri tidak sebanyak seperti dahulu walaupun masih mudah dijumpai di sebagian besar daerah NTT. Hal ini terjadi karena pola pemanfaatan gewang itu sendiri yang kurang tertata dengan rapi. Eksploitasi tegakan-tegakan gewang di alam dilakukan tidak sejalan dengan usaha regenerasinya. Akibatnya, populasi gewang mengalami tekanan lingkungan yang berat. Oleh karena itu, perlu adanya inovasi teknologi dalam pengembangan potensi sumberdaya lokal tersebut. Inovasi teknologi yang lebih terarah dan bisa dikatakan maju adalah dengan dilakukan usaha pengembangan untuk mengangkat status gewang dari liar menjadi status budidaya melalui proses domestikasi. Pengembangan populasi-populasi baru gewang perlu dilakukan untuk menjamin kesinambungan gewang sebagai sumber bahan bagi masyarakat lokal NTT baik untuk papan bangunan, bahan pangan, minuman maupun industri berskala rumahtangga atau lebih besar di masa depan. Ada peluang besar dalam inovasi pemanfaatan biomassa tanaman gewang yang berbasis industri padat karya. Inovasi teknologi terhadap biomassa gewang baik dalam proses pengolahan, pengemasan sampai pemasaran diharapkan mampu menaikkan nilai tambah dan daya tawar dari produk berbasis gewang. Nilai lain yang didapat adalah harga jual produk dari gewang tersebut relatif lebih murah karena bahan bakunya berasal dari satu daerah dibanding produk lain sejenis yang kebanyakan masih didatangkan dari luar daerah. Ekonomi masyarakat akan turut bergerak seiring tumbuhnya industri berbasis biomassa gewang. Banyak pekerja yang dibutuhkan dalam sektor tersebut. Otomatis sektor riil akan tumbuh dengan pesat. Sentuhan teknologi yang menjanjikan dalam kontribusinya menjaga ketahanan pangan daerah maupun nasional yang berangkat dari kearifan lokal.

Usaha ini tentu membutuhkan dukungan banyak pihak terutama pemerintah daerah setempat atau para pemangku kebijakan yang ada. Dan kerja keras tersebut harus melibatkan masyarakat itu sendiri. Ke depannya kasus krisis pangan akibat kekeringan dan gagal panen di NTT tidak akan terjadi lagi dengan adanya pemberdayaan sumberdaya lokal untuk ketahanan pangan daerah melalui diversifikasi bahan pangan. Selama ini akibat kebijakan berasisasi dimana mayoritas penduduk negari ini sedikit dipaksa untuk makan nasi malah menyingkirkan peran bahan pangan lokal seperti sagu, jagung maupun tepung akarbilan yang sudah sebagai makanan pokok sebagian penduduk negeri ini khususnya di NTT. Ketahanan pangan tidak harus menyamakan dalam jenis bahan pangan. Malah dari keragaman sumber bahan pangan itu sendiri yang bisa menjaga ketahanan pangan penduduk negeri ini yang tersebar luas di pulau besar maupun kecil dengan ciri khas wilayah yang beragam juga. Pemakaian bahan lokal untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat lokal sudah tidak pada tempatnya diidentikkan dengan keterbelakangan, kemiskinan maupun ketertinggalan. Nantinya gewang si emas hijau dari NTT yang mungkin sudah lama terpendam ini akan menjadi primadona dan bisa bersanding dengan ketenaran kayu Cendana yang memang sudah dikenal luas oleh banyak masyarakat sehingga bisa meningkatkan taraf kehidupan penduduk di provinsi yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste.