Bioreaktor Enzim untuk Pengolahan Limbah Batik dan Tekstil

Sejak tahun 2000, Kementerian Lingkungan Hidup sudah menggulirkan sertifikasi ramah lingkungan untuk berbagai industri, termasuk industri tekstil. Namun demikian, masih banyak industri tekstil dan batik yang membuang limbah cair maupun padat ke lingkungan, sehingga belum ada satu pun industri tekstil yang mendapat predikat ramah lingkungan hingga saat ini. Air limbah dari industri tekstil dan batik mengandung zat warna pekat dan senyawaan toksik yang dapat mengganggu sistem kehidupan di lingkungan ketika dibuang tanpa pengolahan sebelumnya. Hal inilah yang mendorong kelompok penelitian (keltian) Teknologi Proses Biomassa dan Bioremediasi (TPBB), untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah batik dan tekstil dengan memanfaatkan kinerja enzim.

proses-freeze-drying

Kegiatan pengembangan reaktor enzim ini dimulai tahun 2016 sebagai salah satu kegiatan unggulan LIPI. “Pemanfaatan enzim untuk proses penghilangan warna dan toksisitas limbah batik dan tekstil menjadi alternatif yang sangat diminati karena ramah lingkungan dan menawarkan proses yang sangat cepat jika dibandingkan dengan metode fisik dan kimia. Hal tersebut memicu kami untuk melakukan pengembangan reaktor enzim yang efektif dan efisien serta tidak menimbulkan permasalahan limbah lainnya ,” papar Dr. Dede Heri Yuli Yanto sebagai penanggung jawab kegiatan.

Sebenarnya, penelitian sudah dimulai sejak tahun 2014 dengan melakukan eksplorasi jamur Basidiomycetes penghasil enzim ligninolitik, yaitu enzim yang dapat merombak senyawa aromatik, polimer sintetik, dan zat warna dalam limbah menjadi CO2 dan H2O, sehingga menjadi tidak toksik.  Enzim diisolasi dan diproduksi dari jamur Basidiomycetes terpilih hingga selanjutnya dioptimasi untuk dapat menghilangkan warna limbah tekstil dengan sistem bioreaktor. “Kami sudah melakukan eksplorasi mulai dari daerah Sabang, Riau, Jawa Barat, Sumba, hingga Sulawesi Barat. Dari sekitar 100 isolat, beberapa di antaranya positif menghasilkan enzim ligninolitik,” tambah doktor lulusan Universitas Ehime, Jepang, ini.

d-enzimKegiatan yang akan dilaksanakan selama empat tahun (2016-2019) ini telah berhasil memproduksi lebih dari 40 gram prototipe enzim pada tengah tahun pertama. Pada tahun 2017 akan dilakukan optimasi dan pengembangan reaktor enzim skala 1:10 atau 1:5. Selanjutnya, akan dilakukan aplikasi reaktor enzim pada industri batik dan tekstil skala 4 m3 hingga akhirnya dapat dilakukan analisa teknoekonomi, analisa kelayakan, analisa dampak lingkungan serta analisa Life Cycle Analysis (LCA) untuk produk reaktor enzim dan aplikasinya pada pengolahan limbah cair berwarna di industri batik dan tekstil.

 “Tujuan lain yang tidak kalah pentingnya adalah dapat menyadarkan pelaku industri serta masyarakat akan pentingnya pengolahan limbah batik dan tekstil yang efektif sehingga lingkungan tetap sehat dan terjaga,” tutup doktor peraih paten terkait dengan penemuan mikroba Pestalotiopsis sp. sebagai agen pengurai cemaran minyak dan limbah tekstil ini.