Post oleh Kurnia Wiji Prasetiyo

Calon Pemimpin dan Ruang Terbuka Hijau

OKUPASI ruang terbuka hijau (RTH) di DKI Jakarta memaksa penduduknya hidup dalam ketidaknyamanan. Selain minimnya RTH sebagai akibat pertumbuhan gedung-gedung yang tidak terkendali, faktanya hanya menyisakan sedikit ruang kosong yang malah digunakan segelintir warga untuk bercocok tanam. Padahal RTH dibutuhkan agar Jakarta menjadi lebih beradab, memberi manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan estetika. Kondisi seperti inilah yang harusnya menjadi isu kampanye para calon gubernur DKI Jakarta sebab penyusutan luasan RTH di Jakarta menimbulkan ketidakseimbangan ekologi dan mempercepat proses pemanasan global.

Imbasnya ialah krisis sumber air tanah layak konsumsi, terbatasnya persediaan udara bersih, lingkungan semakin panas, hingga percepatan tingkat stres masyarakat. UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mensyaratkan luasan RTH pada wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota, yang terdiri atas 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Memang tak mudah mewujudkannya, tapi harus dilakukan kalau ingin Jakarta lebih beradab. Selengkapnya »