Skip to main content

Profil Sivitas: Dr. Lisman Suryanegara


Dr Lisman Suryanegara, M. Agr yang lahir pada tanggal 9 Februari 1975 adalah Peneliti Madya di Pusat Penelitian Biomaterial. Pendidikan S1 ditempuh di Institut Pertanian Bogor (IPB), sementara pendidikan S2 dan S3 ditempuh di Kyoto University, Jepang. Beliau melanjutkan Postdoctoral di Laboratory of Active Biobased Material RISH, Kyoto University, Jepang.

Bidang penelitian yang ditekuni saat ini adalah material berbahan dasar hayati, nanokomposit, selulosa dan polylactic acid. Salah satu penelitian beliau yang menghasilkan paten adalah pemanfaatankan limbah biomassa yang digunakan sebagai bahan bakar. Penelitian tersebut menghasilkan paten terdaftar dengan judul “Bahan Bakar Padat Berbasis Limbah Biomassa” dengan nomor pendaftaran paten : P00201702053.

Dr. Lisman tertarik menekuni penelitian pemanfaatan limbah biomassa sebagai bahan bakar alternatif dikarenakan ketersediaan bahan bakar fosil di alam yang semakin sedikit. Di sisi lain kebutuhan akan bahan bakar di dunia semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengatasinya, salah satunya adalah dengan menggunakan bahan bakar alternatif. Pemilihan limbah biomassa sebagai bahan bakar alternatif merupakan ide yang brilian mengingat limbah biomassa di Indonesia masih sangat melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal. Bahan bakar berbasis biomassa dalam bentuk pelet yang dikenal dengan nama “Biopelet” sudah semakin berkembang di Indonesia. Biopelet ini dapat dibuat dari limbah hasil pertanian dan perkebunan, seperti limbah produk samping kelapa sawit, batang ubi kayu, limbah penggiling padi, tongkol jagung, limbah pabrik gula, limbah kakao, kulit kacang, kulit kopi dan lain lain.

Biopelet yang diproduksi Dr. Lisman berasal dari ampas kopi yang diperoleh dari proses pengolahan produksi kopi instan. Ampas kopi ini mempunyai nilai kalori 5000 – 6000 kal/gram dan berpotensi menghasilkan energi alternatif yang dapat menggantikan bahan bakar gas atau kayu sehingga menggurangi biaya produksi. Nyala api yang dihasilkan dari biopelet ini berwarna merah – oranyege serta tidak mengeluarkan asap pada awal pembakaran.
Biopelet ini dapat digunakan oleh masyarakat terutama pengusaha industri rumahan, seperti pabrik kerupuk, tahu, bakso goreng, bakso, keripik, sukro, dodol dan lain-lain yang selama ini lazim menggunakan gas atau kayu bakar sebagai sumber bahan bakar. Pada saat ini biopelet ini telah dimanfaatkan oleh Pabrik Kerupuk di Bojong Gede Bogor dan Pengusaha Kue Sagon.

Profil Sivitas: A. Heru Prianto

Lahir di Brebes 39 tahun silam, Arief Heru Prianto, peneliti kimia bahan alam di Pusat Penelitian Biomaterial – LIPI, memfokuskan penelitiannya guna mencari solusi terhadap permasalahan yang terjadi di daerah kelahirannya. Kota Brebes, seperti diketahui banyak orang, merupakan sentra penghasil tanaman bawang di Indonesia. Sayangnya, petani bawang di Brebes juga menjadi merupakan pengguna pestisida terbesar di ASEAN.
Sebagai seorang peneliti di Kelompok Penelitian Pengendalian Hama Permukiman dan Pertanian (PHPP), persoalan ini memacu Heru untuk mencari obat hama yang ramah lingkungan. Di tahun 2015, ia melakukan penelitian dengan melakukan ekstraksi biji nimba (Azadirachta indica, A. Juss.) yang banyak tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis di Indonesia. Minyak biji nimba tersebut diformulasikan sehingga menghasilkan larutan emulsi (EC) yang sangat mudah diaplikasikan pada tanaman.
Dari hasil formulasi ekstrak biji nimba, telah dilakukan uji laboratorium menggunakan ulat grayak (spodoptera sp). Ulat grayak merupakan hama yang banyak menyerang tanaman bawang, kentang, dan berbagai komoditi pertanian lainnya. Sementara uji lapangan dilakukan dengan pemberian biopestisida pada tanaman bawang merah yang ditanam pada tanah seluas 1500m². Hasil uji laboratorium dan uji lapangan membuktikan bahwa biopestisida dari ekstrak biji nimba mampu mengendalikan serangan hama dengan cara diantaranya mengurangi selera makan hama serta mencegah hama bertelur pada tanaman.
Biopestisida dari ekstrak biji nimba tersebut kemudian diberi label “Agrimat” (biopestisida untuk tanaman pertanian) dan “Bioterm” (biopestisida untuk hama pemukiman). Bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Brebes, produk Agrimat telah disosialisasikan dan diaplikasikan oleh petani bawang di daerah Brebes. Sementara untuk HKI, Heru telah mendaftarkan paten untuk biopestisidanya melalui Pusat Inovasi – LIPI dengan No. Pendaftaran Paten: P00201703486.

Dengan hasil penelitian berupa biopestida berbahan ekstrak biji nimba ini, Heru berharap mampu memberikan alternatif pengendalian serangga hama yang aman bagi manusia dan lingkungan. Diantara banyaknya penggunaan pestisida dengan bahan-bahan kimia berbahaya yang sangat membahayakan kesehatan dan tidak ramah terhadap lingkungan. “Adalah tanggung jawab moral sebagai peneliti untuk memecahkan persoalan di masyarakat sampai selesai. Meski hanya satu komoditi (bawang) namun jika dikerjakan hingga tuntas akan bermanfaat bagi masyarakat luas. Penelitian apa pun temanya harus bisa membidik masalah yang ada, menghasilkan produk yang bisa diterapkan, dan mengawal prosesnya dari hulu hingga ke hilir,” jelasnya.

Bambu : Sumber Hayati Yang Multifungsi

 

Bambu merupakan salah satu tumbuhan berkeping satu (monokotil) dan masuk dalam keluarga rumput-rumputan (famili Poaceae). Indonesia memiliki 161 jenis bambu dimana 126 jenis diantaranya merupakan jenis asli Indonesia. Hal tersebut berarti sekitar 15,5% dari total spesies bambu dunia (Widjaja et al., 2014). Bambu tumbuh di seluruh daerah Indonesia baik secara liar maupun ditanam. Namun, masih sedikit pengetahuan terhadap kelimpahan, keunggulan, kelemahan bahkan potensi jenis-jenis bambu tersebut.

Bambu sudah banyak dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sejak dulu dalam beragam bentuk seperti untuk alat-alat rumah tangga, alat musik maupun komponen bangunan. Salah satu kegunaan dari bambu yang semakin berkembang variasi bentuk dan jenisnya hingga saat ini yaitu sebagai bahan konstruksi untuk berbagai jenis struktur bangunan baik sebagai struktur utama maupun pendukung.  Perkembangannya menjadi semakin pesat dalam 10-15 tahun ini. Hal ini terlihat dari beraneka ragamnya jenis bambu yang berada di masyarakat seperti bambu andong, bambu betung, bambu ori, bambu tali dan lainnya yang memang terkenal memiliki kekuatan untuk digunakan sebagai struktur-struktur bangunan tersebut. Berbagai bentuk bangunan yang indah dan mengagumkan terlahir dari bambu-bambu tersebut. Bangunan dengan detail sederhana hingga kompleksitas tingkat tinggi mampu menyulap bambu menjadi bahan material yang tidak lagi dipandang sebelah mata.Selengkapnya