Mungkin sulit dibayangkan jika nata de coco yang biasa kita makan, suatu saat muncul di hadapan kita dalam bentuk layar televisi atau monitor komputer. Tapi para ilmuwan dari Kyoto University telah menemukan bahwa ternyata nata de coco dapat diolah menjadi material baru yang sangat kuat dan tahan panas, tetapi sekaligus lentur, dan mampu men-transmisi-kan cahaya. Salah satu produk yang mungkin dihasilkan dari nata de coco adalah layar monitor. Tidak percaya?
Nata de coco selama ini memang dikenal sebagai makanan yang sangat digemari masyarakat. Selain murah dan gampang dibuatnya, ternyata kandungan seratnya bisa memperlancar saluran pencernaan. Pembuatannya hanya melalui proses fermentasi air kelapa dengan menggunakan bakteri jenis Acetobacter xylinum. Jadi, tidak terbayangkan sebelumnya jika makanan yang begitu sederhana bisa diolah menjadi bahan baku industri yang lain.
Menurut para peneliti dari Lab of Active Bio-based Material-Kyoto University, nata de coco dapat dijadikan komposit yang sangat kuat dengan teknik pengolahan yang cukup sederhana. Lembar nata de coco yang sudah dihilangkan airnya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam perekat polifenol formaldehid dengan berat molekul rendah. Setelah melalui proses pengeringan kemudian dipres panas pada suhu 180oC selama 10 menit sehingga akan dihasilkan komposit yang sangat kuat.
Material komposit tersebut mempunyai keteguhan patah (bending strength) 450 MPa, dengan kerapatan 1.4 g/cm3. Kekuatan ini lebih baik bila kita bandingkan dengan kekuatan baja campuran (Mg alloy AZ-91) yang mempunyai keteguhan patah sekitar 370 Mpa (kerapatan 1.8 g/cm3). Bahkan kekuatan komposit tersebut dapat disetarakan dengan kekuatan baja ringan SS400 (kerapatan 7.8 g/cm3) yang mempunyai keteguhan patah sekitar 500 MPa.
Komposit nata de coco bisa memiliki kekuatan yang sangat baik karena nata de coco memiliki microfibrils yang seragam dengan ukuran fiber kurang dari 10 nm, lurus serta membentuk jaringan seperti jaring laba-laba. Kekuatan jaringan inilah yang menjadikan komposit nata de coco mendekati kekuatan baja ringan namun dengan kerapatan yang jauh lebih rendah bila dibandingkan baja ringan. Keunggulan tersebut memungkinkan komposit nata de coco untuk dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi seperti industri otomotif, elektronik, maupun konstruksi. Selain keunggulannya yang ringan, kuat, murah dan mudah dalam proses pembuatannya, keunggulan lainnya adalah komposit tersebut dibuat dari bahan alami (renewable resources) yang ketersediaannya di alam sangat melimpah.
Tidak hanya sampai di situ, komposit nata de coco bahkan memiliki sifat transmitter cahaya seperti kaca. Berdasarkan penemuan mutakhir dari para peneliti Kyoto University, ukuran fiber dari nata de coco yang berskala nano, memungkinkannya untuk mentransmisikan cahaya tanpa pembelokan. Sifatnya nyaris seperti kaca dengan keunggulan lebih tahan terhadap panas dan memiliki kelenturan seperti plastik. Hal ini menjadikan komposit nata de coco sebagai material impian dengan berbagai keunggulan.
Prinsip pembuatannya cukup sederhana, lapisan nata de coco dihilangkan airnya sehingga berbentuk lembaran seperti kertas. Setelah dikeringkan menggunakan vacuum oven, lembaran tersebut masih belum transparan karena masih mengandung rongga udara, sifat transparan dihasilkan setelah rongga udara diisi oleh senyawa resin yang mempunyai sifat transparan seperti resin akrilik. Selanjutnya dilakukan pematangan dengan menggunakan sinar UV, sehingga dihasilkan lembaran yang transparan.
Dengan berbagai sifat yang unggul seperti transparan, ringan, fleksible dan mudah dibentuk menjadikan komposit berbahan dasar nata de coco mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai layar monitor, kaca jendela mobil ataupun jendela kereta api. Di Jepang sendiri, saat ini pemanfaatan komposit tersebut sedang diaplikasikan dalam skala industri bekerjasama dengan pihak swasta. Diharapkan dalam waktu dekat, kita bisa menikmati layar monitor komputer yang lentur seperti plastik namun tahan panas seperti gelas. Bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya kita akan memakai kacamata yang terbuat dari komposit nata de coco apabila komposit tersebut dikembangkan untuk alat optik.
Lalu bagaimana dengan pengembangan dan pemanfaatannya di Indonesia? Sebenarnya Indonesia dapat dikatakan sangat diuntungkan dengan melimpahnya ketersediaan nata de coco. Produksinya bersifat ramah lingkungan dan menguntungkan banyak rakyat kecil karena bisa dikerjakan dalam skala home industri. Pengembangan teknologi industri berbahan dasar nata de coco di Indonesia bisa jadi memiliki prospek cerah mengingat industri elektronik dan otomotif di Jepang mampu menyerap hasilnya.
Jepang, walaupun tidak memiliki sumber daya alam yang besar seperti Indonesia dan hanya mengimpor nata de coco dari Filipina, namun mampu mengembangkan nata de coco menjadi material yang prospektif dengan kemungkinan aplikasi yang luas. Jika teknologi ini bisa dikembangkan di Indonesia, bukan tidak mungkin Indonesia akan dapat menjadi penyedia komposit ini untuk berbagai aplikasi.
Penulis adalah alumni Kimia IPB yang sekarang menjadi peneliti di Lab. Biokomposit, UPT Biomaterial-LIPI, Cibinong. Saat ini sedang tugas belajar di Lab. of Active Bio-based Materials, RISH, Kyoto University sebagai Doctoral student dengan bidang penelitian: bio-nanocomposite, polylactic acid, microfibrillated cellulose email: liman.suryanegara (at) lipi.go.id
Artikel asli dari: http://www.beritaiptek.com


Saya tertarik dengan artikel anda mengenai fungsi nata disamping bahan pangan.kebetulan saya sedang membuat nata dari rumput laut dan sudah separo jalan. saya hanya ingin berbagi ilmu dan pengalaman dengan anda yang sudah lebih expert. Apakah anda meneliti nata dari awal atau fungsi yang bisa dikaji setelah menjadi nata? Buat saya artikel anda sangat terbaru dan bisa dijadikan input untuk dikembangkan selanjutnya.
Apakah anda ahli nata? kalau iya saya mau bertanya banyak dengan anda sebagai masukan untuk skripsi saya.
Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.
Untuk mbak Sara,
Jawaban Pertanya #1: Saya tidak meneliti nata de coco dari awal. Namun dulu ketika di Indonesia, saya ikut meneliti pembuatan nata de coco di Puslit Bioteknologi-LIPI, Cibinong. Kontak person (peneliti)-nya Ibu Ruth Melliawati.
Jawaban Pertanyaan #2: Saya bukan ahli nata de coco. Bidang saya bionanokomposit dari PLA dan cellulose fiber.
tertarik dengan kekuatan komposit dgn bahan dasar nata de coco yang ramah lingkungan mungkin bahan ini bisa dikembangkan sebagai bahan tambal gigi?
Untuk Pak Mukhlis,
Boleh jadi kedepannya bahan tsb dikembangkan untuk bahan medis. Kabar terakhir, temen-temen di UGM sedang meneliti biomaterial komposit untuk tulang buatan.
Subhanallah,,tNyata nata gk cuma bs dmakan aj tp bs dgunakan u/bikin layar komputer,Bravooo!!!!
btw,,,bagi trik n tips dunk buat jd peneliti???alhmdlh taon ni kterima dLiPi..gmn biar betah bKutat lama-lama dLab??n pastiny bisa kuliah dLuar negeri??djepang pula^_^
hidup nata De coco,,,viva Indonesia
Arigato^_^
Informasi yang bagus tuh. Bagaimaa kalau kita (LIPI, Lembaga Penelitian di Perg.Tinggi) mempunyai grand disain yang bahu membahu membina, mengembangkan penelitian berasaskan bahan-bahan produk negara kita. Barangkali Lokomotif utamanya berada di tangan kementrian ristek. Saya sedang studi di UKM dan mereka (beberapa Lemlit PT) mengambil tanggung jawab seperti ini.
Itulah sebabnya proposal riset saya dimodifikasi sesuai dengan gagasan utama PT disini.
Saya masih mengantongi beberapa rencana penelitian berasaskan tumbuhan yang sama dengan Nata de coco yang Pak/Bung/Bang Lisman paparkan.
Memang benar kata anda, Pak. Saya alumni kimia UGM. Saya mendengar itu sudah lama, sekitar 2 tahun yang lalu saat saya lulus S1 di kimia-UGM Dan sekarang saya bersama CV. Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu,mengembangkan berbagai produk dari kelapa. Mulai dari VCO dan produk turunannya (untuk kosmetik, minyak goreng, bio fuel dll) asap cair( untuk berbagai hal: kulit, makanan, anti septik, pewarna dll) biodisel dll. Nah, saya tertarik ingin mencoba pembuatan nata de coco untuk screen komputer, ataupun kaca bahkan untuk optik. Bisa berbagai ilmu Pak? Jika bapak berkenan bisa dikirim lewat email saya: dhanti_s@yahoo.com. Trimakasih banyak sebelumnya Pak. Sukses selalu ya!!!
lain dari opini diatas saya mau tanya apa manfaat lapisan telur bagian dalam yang berwarna putih?
saya alumni TIP UGM, skrng bisnis saya adalah nata de cassava dari ampas tapioka dan limbah cair. saya tertarik dengan penelitian bapak ttg nata menjadi screen komputer. setelah saya uji kandungan serat nata de cassava lebih tinggi. saya ingin menyakan Pak,apakah layar komputer yang dihasilkan nantinya lebih baik? mohon kerjasamanya.saya dapat dihubungi di email:
mayas_yas@yahoo.co.id
terimakasih.
saya ingin bertanya, bagaimana proses pembuatannya, dan komposisi apa yang menyebabkan tahan panas?
Lalu bagaimana resolusi komputer nata de coco tersebut dibandingkan dengan layar komputer biasA?
Tolong dijawab ke
Shaqi_april@yahoo.com
ini suatu temuan yg bagus, boleh ndak penelitian ini sy lanjutkan di sini? krn sy jg peneliti. mohon bimbingan cara & proses pembuatannya.thank u